BACA SELENGKAPNYA DI KABARSUMATERA.CO.ID PEMBANGUNAN DAN PROFIL KAMPUNG BANDAR SARI YANG DINAHKODAI SEORANG ANAK PETANI

  • Bagikan

KabarSumatera.co.id BLAMBANGAN UMPU-Kampung Bandar Sari adalah Salah Satu Kampung Berkecamatan di Way Tuba, dan Salah Satu Kampung dari 221 Kampung yang ada di Kabupaten Way Kanan. kampung Bandar Sari Saat ini di pimpin Sosok Tokoh Yang Sederhana Serta di lahirkan dari ayah Seorang Petani.

Kepala Kampung Bandar Sari saat ini dinahkodai oleh Marzuki,Demi Mewujudkan Kampung yang Maju dan Sejahtera, Serta Mendukung Program Pemerintah Pusat Membangun dari daerah pinggiran dan program Bupati dan Wakil Bupati Way Kanan Maju dan Berdaya Saing 2021, Marzuki inginkan juga Kampung Nya menjadi kampung Para Santri dan Ulama,Sangat Mengedepankan Kepentingan Warganya,terlihat dari Pantauan KabarSumatera.co.id dilapangan Marzuki sangat aktif dalam Mendukung Program Program Keagamaan Di Pondok Pesantren yang ada di Bandar Sari.

saat di wawancarai oleh KABARSUMATERA.CO.ID di ruang Kerja nya Jum’at (29/12) pagi. Marzuki menyampaikan “saya saat ini lagi menggiatkan Pelayanan Terhadap masyarakat mas,baik Pembuatan Surat Menyurat maupun Pembangunan infrastruktur yang Mendesak,seperti keperluan air bersih saya utamakan”. ucap Marzuki.

Ia pun akan berusaha Sekuat tenaga demi melakukan pelayanan yang terbaik bagi Warganya,untuk pembangunan infrastruktur salah Satu nya ia bangunkan jalan Onderlag yang bertempat di Dusun 01 RT/RW.001.001 kampung Bandar Sari Salah Satu Jalan Menuju Tempat belajar Pendidikan agama yang dibiayai Oleh Dana Desa.

salah satu Warga dan Juga Tokoh Agama Ustad Muhammad Syahri pengurus Pesantren Fathul Ulum sangat mengapresiasi Pemikiran Serta trobosan terbaru yang dilakukan Kepala Kampung Bandar Sari terkait memprioritaskan Jalan menuju Pesantren demi lancar nya anak anak untuk Menuntut Ilmu.

“semoga alloh selalu memberikan Kesehatan disetiap menjalankan tugas,dalam memimpin Kampung Bandar Sari”Pungkas Ustad syahri kepada awak Media.

Profil Desa Bandar Sari

Pada awal dari kedatangan para transmigran lokal, posisi Bandar Sari (yang dulu namanya Bandar Pelita) terletak di kecamatan Blambangan Umpu, kabupaten Lampung Utara. Namun kemudian pada tahun 1996, terdapat pemekaran kecamatan sehingga terbentuklah kecamatan Way Tuba. Berhubungan dengan terbentuknya kecamatan Way Tuba maka posisi kampung Bandar Sari berubah yang awalnya berada di kecamatan Blambangan Umpu menjadi di kecamatan Way Tuba

Pada tanggal 27 April 1999, terdapat pemekaran kabupaten sehingga terbentuklah kabupaten Way Kanan. Kecamatan Way Tuba termasuk salah satu kecamatan yang terdapat di Way Kanan maka posisi Bandar Sari yang awalnya berada di kabupaten Lampung Utara, berubah menjadi di kabupaten Way Kanan.

Berdasarkan posisi geografis dari kampung Bandar Sari, kampung ini berbatasan dengan daerah–daerah sebagai berikut :

Sebelah utara     :  Provinsi Sumatera Selatan

Sebelah selatan  :  Desa Sumamukti

Sebelah barat     :  Bukit Gemuruh

Sebelah timur    :  Desa Way Pisang

 

B.     Desa Bandar Sari Sebagai Desa Transmigrasi Lokal

Desa Bandar Sari (dulunya bernama Bandar Pelita) yang terletak di kecamatan Way Tuba, kabupaten Way Kanan, merupakan salah satu kampung yang terbentuk karena adanya program Transmigrasi lokal dari Pemerintah daerah. Tujuan dari pengadaan Program Transmigrasi lokal ini dilakukan adalah untuk meratakan jumlah penduduk serta untuk mendukung program reboisasi pada hutan yang berada di daerah Lampung Selatan.

Sebelum program transmigrasi lokal dilakukan, pemerintah daerah Lampung Selatan sudah mulai melaksanakan program reboisasi yang dilakukan di daerah – daerah Lampung Selatan. Program ini direncanakan tahun 1977 dan mulai terlaksana tahun 1979-1981. Untuk mendukung program reboisasi ini maka pemerintah setempat di Lampung Selatan memutuskan untuk melakukan Transmigrasi lokal ke daerah – daerah yang lahannya belum dimanfaatkan.

Pada tahun 1982, Pemerintah daerah mulai melaksanakan program transmigrasi lokal. Para transmigran pun mulai dipindahkan ke Desa Bandar Pelita yang saat itu masih merupakan bagian dari kecamatan Blambangan Umpu. Para transmigran disambut dan diterima oleh camat Blambangan Umpu, KUKASPARI. Setelah diterima, para transmigran langsung dikirim ke Desa – desa sebagai lokasi dari transmigrasi lokal . Desa yang menjadi lokasi transmigrasi di kecamatan Blambangan Umpu adalah Desa Way Tuba, Desa Bukit Gemuruh, Desa Way Mencar, Desa Way Pisang dan Desa Bandar Pelita.

Para transmigran ditempatkan di kampung Bandar Pelita pada awal Agustus 1982, tepatnya mulai dari 12 Agustus sampai 17 Agustus 1982. Jumlah total para transmigran yang ikut dalam program tranmigrasi lokal ke Desa Bandar Pelita adalah 515 KK, dengan rincian jumlah transmigran yaitu :

a.       Kecamatan Kedondong berjumlah 151 KK, dimana pada kloter pertama pada tanggal 12 Agustus berjumlah 61 KK dan kloter kedua pada tanggal 15 Agustus 1982 berjumlah 90 KK.

b.  Kecamatan Gedong Tataan berjumlah 210 KK, terdapat 2 kloter pengiriman transmigran yaitu kloter pertama pada tanggal 13 Agustus 1982 berjumlah 90 KK dan kloter kedua pada tanggal 16 Agustus berjumlah 120 KK.

c.       Kecamatan Wonosobo 154 KK, terdapat 2 kloter pengiriman transmigran lokal yaitu kloter pertama pada tanggal 14 Agustus berjumlah 90 KK dan kloter kedua berjumlah 64 KK.

Setelah 5 tahun transmigrasi berlangsung, ada sekitar 54 KK dari jumlah 515 KK yang sebelumnya ditempatkan, memutuskan untuk berhenti ikutserta dalam program transmigrasi lokal. Mereka memutuskan untuk kembali ke desa halamannya masing – masing. Dan sesuai dengan kesepakatan awal, dimana jika ada transmigran yang memutuskan berhenti maka lahan yang diberikan kepada transmigran tersebut akan ditarik lagi oleh pemerintah. Karena adanya kejadian itu  maka pada tahun 1987, pemerintah melakukan transmigrasi lokal tambahan atau sisipan untuk 54 KK. Transmigran tersebut datang dari Metro, Wates, dan Bandar Jaya. Para
program transmigrasi sisipan ini dikenakan biaya sebesar Rp.250.000,00 untuk setiap KK.

C. Asal Usul Nama Desa Bandar Sari
Pada awal kedatangan para transmigran, nama Desa yang sekarang dikenal dengan Bandar Sari adalah Bandar Pelita. Nama Bandar Pelita ini ditetapkan oleh KUPT (Kepala Unit Pemukiman Transmigrasi).
Pada saat itu yang menjabat sebagai KUPT adalah Joko

Beliau hanya menjabat selama 6 bulan, lalu pensiun digantikan oleh Supardi Matanom. Tugas KUPT saat itu adalah untuk memilih kepala kampung yang juga berdasarkan musyawarah desa dan terpilihlahYunada Rusli sebagai kepala kampung pada tahun 1983. Namun akhirnya lengser karena suatu masalah dan akhirnya digantikan oleh Aswawi Idris sebagai kepala kampung.
Setelah 4 tahun para transmigran mendiami Desa Bandar Pelita , para transmigran memikirkan untuk mengganti nama Bandar Pelita. Untuk mendukung hal tersebut maka diadakanlah musyawarah kampung yang bertujuan untuk membahas tentang pergantiaan nama Bandar Pelita. Dan akhirnya setelah musyawarah selesai maka diputuskanlah nama Bandar Pelitadiubah menjadi Bandar Sari, yang namanya masih digunakan hingga sekarang. Alasan nama Bandar Sari dipilih adalah agar masyarakat dapat mengambil sari bumi (hasil bumi) dari kampung ini agar masyakat mendapat kemajuan dan kemakmuran. Dan akhirnya
nama Bandar Sari ini menjadi kebanggaan masyarakat sampai sekarang.

BAB II. DINAMIKA MASYARAKAT BANDAR SARI
Sejarah Kehidupan Masyarakat Desa Bandar Sari
Para transmigran dari program transmigrasi lokal mulai ditempatkan di Desa Bandar Sari pada awal Agustus 1982, tepatnya mulai dari tanggal 12 Agustus sampai 17 Agustus 1982. Jumlah transmigran yang mengikuti program tranmigrasi lokal ke Desa Bandar Pelita berjumlah 515 KK, dengan rincian jumlah transmigran yaitu :
Kecamatan Kedondong berjumlah 151 KK, dimana pada kloter pertama pada tanggal 12 Agustus berjumlah 61 KK dan kloter kedua pada tanggal 15 Agustus 1982 berjumlah 90 KK.

b.      Kecamatan Gedong Tataan berjumlah 210 KK, terdapat 2 kloter pengiriman transmigran yaitu kloter pertama pada tanggal 13 Agustus 1982 berjumlah 90 KK dan kloter kedua pada tanggal 16 Agustus berjumlah 120 KK.

c.       Kecamatan Wonosobo 154 KK, terdapat 2 kloter pengiriman transmigran lokal yaitu kloter pertama pada tanggal 14 Agustus berjumlah 90 KK dan kloter kedua berjumlah 64 KK.

Sekitar 515 KK menjadi transmigran di Desa Bandar Pelita. Para transmigran untuk tiap KK diberikan lahan untuk berusaha, pondok dengan ukuran 5 x 7 m, serta sembako yang ditanggung selama 1 tahun. Desa Bandar Pelita memiliki luas sekitar 1200 ha + fasilitas umum lainnya (sekolah, jalan lintas , masjid , puskesmas dan balai desa). Pada saat itu, untuk setiap lahan yang diberikan disertai dengan sertifikat Hak Pakaidengan masa pakai selama 3 tahun. Dan dengan adanya sistem sertifikat hak pakai ini maka setiap transmigran harus mengusahakan lahan yang ada. Dengan adanya sistem hak pakai ini juga maka terdapat perjanjian tertulis. Perjanjian tersebut berisikan apabila lahan tersebut tidak digunakan secara produktif maka hak pakai akan di ambil alih oleh pemerintah
namun apabila lahan digunakan secara produktif maka Hak Pakaitersebut menjadi Hak Milik.

Pada awal kedatangannya, para transmigran yang berasal dari daerah–daerah yang berbeda–beda ini mulai hidup dengan baik dengan memakai seluruh sarana fasilitas umum yang disediakan untuk digunakan dan mulai bekerja dengan baik. Pada umumnya para transmigran yang ada bermatapencaharian sebagai petani palawija yaitu tanaman jagung, padi, cabe, ubi kayu, kelapa sawit dan beberapa orang bekerja sebagai peternak .

Pada tahun 1985 mulai di adakan pengadaan rekening PBB , yang pada awalnya saat itu masih sertifikat Hak Pakai selama 1 tahun dan kemudian setelah 3 tahun digunakan berubah menjadi Hak Milik karena masyarakat desa pada saat itu sudah betah dan kerasan tinggal di desa Bandar Sari. Pada tahun yang sama juga, pemerintah atas instruksi presiden melaksanakan program bantuan pemerintah kepada masyarakat Indonesia, dengan tujuan agar Indonesia menjadi negara swasembada daging sapi. Program itu dilaksanakan dengan memberikan bantuan berupa sapi banpres
(Bantuan Presiden) kepada setiap kepala keluarga, dimana setiap kepala keluarga mendapat 1 sapi induk.
Kemudian pada tahun 1987, pemerintah juga membentuk program yaitu sembada tanam pertiwi, dimana pemerintah memberikan bibit dan penyuluhan mengenai penanaman kedelai dan karena hal itu maka masyarakat mulai bertanam kedelai.
Setelah 5 tahun tahun transmigrasi berlangsung, ada sekitar 54 KK dari jumlah 515 KK yang sebelumnya ditempatkan, memutuskan untuk berhenti ikutserta dalam program transmigrasi lokal. Mereka memutuskan untuk kembali ke Desa halamannya masing – masing. Dan sesuai dengan kesepakatan awal, dimana jika ada transmigran yang memutuskan berhenti maka lahan yang diberikan kepada transmigran tersebut akan ditarik lagi oleh pemerintah. Karena adanya kejadian itu maka pada tahun 1987, pemerintah melakukan transmigrasi lokal tambahan atau sisipan untuk 54 KK. Transmigran tersebut datang dari Metro, Wates, dan Bandar Jaya. transmigran yang datang pada program transmigrasi sisipan ini dikenakan biaya sebesar Rp.250.000,00 untuk setiap KK.

C. Asal Usul Nama Desa Bandar Sari
Pada awal kedatangan para transmigran, nama Desa yang sekarang dikenal dengan Bandar Sari adalah Bandar Pelita. Nama Bandar Pelita ini ditetapkan oleh KUPT (Kepala Unit Pemukiman Transmigrasi).
Pada saat itu yang menjabat sebagai KUPT adalah Joko. Beliau hanya menjabat selama 6 bulan, lalu pensiun digantikan oleh Supardi Matanom. Tugas KUPT saat itu adalah untuk memilih kepala kampung yang juga berdasarkan musyawarah desa dan terpilihlah Yunada Rusli sebagai kepala kampung pada tahun 1983. inilah sekilas profil Kampung Bandar sari yang di Ketahui KabarSumatera.co.id ( ADV/RICO)

banner 728x90

banner 728x90

  • Bagikan