Filantropi Milenial di Tulis Untuk Milenial Yang Berani Berikan Aksi Nyata

  • Bagikan

Filatropi Milenial

Penulis : Munawar. S.Fil., MA
Redaktur : Anggi Subagio

Kabarsumatera.co.id/Way Kanan – Filantropi milenial Oleh Munawar. S. Fil., MA.

Khitanan Jum’at yang digagas oleh Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Kabupaten Way Kanan, merupakan kegiatan reflektif dalam perjalanan abad ke-2 Muhammadiyah. Kegiatan dimaksud untuk memberikan gambaran bahwa cara berdakwah Muhammadiyah dapat dilakukan dengan melalui gerakan filantropi.

Meskipun dalam status resminya Muhammadiyah merupakan Organisasi Kemasyarakatan (ormas), namun kebanyakan warga Muhammadiyah menyebutnya sebagai gerakan. Hal ini dapat dlihat dalam bait lagu “ Al-Islam Agamaku, Muhammadiyah Gerakanku”.

Filantropi menurut Hilman Latif, berasal dari bahasa latin, philanthropia, atau bahasa Yunani, Philo dan Anthropos, yang berarti “cinta manusia’. Filantropi Adalah kepedulian seseorang atau sekelompok orang kepada orang lain berdasarkan kecintaan pada sesama manusia.

Namun apabila ditinjau dari sifatnya maka terdapat dua bentuk filantropi, yakni filantropi tradisional dan filantropi modern. Filantropi tradisional adalah filantropi berbasis Karitas (Charity) atau belas kasihan yang pada umumnya di masyarakat dikenal dengan bentuk pemberian para dermawan kepada kaum miskin untuk membantu kebutuhan makanan, pakaian, tempat tinggal, dan lainnya.

Adapun filantropi modern yang lazim disebut sebagai filantropi pembangunan sosial dan keadilan sosial. Dengan kata lain filantropi modern menjembatani antara si kaya dan si miskin dengan orientasi pada perubahan institusional dan sistematik.

Sebagai kaum muda (milenial), PDPM Way Kanan termasuk “berani” memberikan terobosan aksi nyata ini. Hal ini bukan saja menggembirakan, namun mampu menegaskan bahwa kawula muda-pun sanggup berbuat untuk kemaslahatan masyarakat dengan memilih jalan filantropi.

Boleh jadi, PDPM Way Kanan terinspirasi dari spirit kemanfaatan amal jariyah yang juga merupakan bagian pengamalan beragama dalam masyarakat. Spirit kemanfaatan inilah yang kemudian direalisasikan dalam gerakan kemaslahatan. Dengan demikian, azas kemanfaatan bisa dilakukan dan dilaksanakan melalui gerakan bersama (berjamaah).

Gerakan tersebut juga diyakini oleh K.H. Ahmad Dahlan sebagai gerakan sosial kemasyarakatan. Dimana pada masanya, kampung Kauman memberikan inpirasi sosial tersendiri, sehingga memunculkan gagasan pendirian lembaga (Penolong Kesengsaraan Oemoem) PKU. Eksistnsi PKU pun semakin nyata terlihat dan penting dari citra Muhammadiyah sebagai gerakan sosial.

Ini menjadi bagian penting dalam abad ke-2 Muhammadiyah. Dimana lembaga pelayananan kesehatan bersinergi dengan lembaga sosial muhammadiyah lainya dalam membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia. Karena Muhammadiyah sejak awal juga mempunyi peran sebagai pengintegrasian keislaman dan keindonesiaan.

Bahwa Muhammadiyah dan umat Islam merupakan bagian integral dari bangsa dan berkiprah membangun pondasi dasar kebangsaan. Nasionalisme bukanlah doktrin mati sebatas slogan cinta tanah air tetapi harus dimaknai dan difungsikan sebagai energi positif untuk membangun indonesia secara dinamis dan transformatif dalam mewujudkan cita cita nasional.( Pilar 2 : Wawasan Kebangsaan dan Kemanusiaan)

Dalam konteks ini Muhammadiyah telah mengikrarkan “Ta’awun Untuk Negeri” , berbakti pada negeri, sebagai sebuah upaya untuk memberikan pelayananan kepada kaum dhuafa melalui lembaga sosial yang ada di Muhammadiyah. Sehingga, tujuan dari berdirinya Muhammadiyah dapat dirasakan oleh masyarakat luas.

Disinilah perlu adanya sinergi antara lembaga sosial Muhammadiyah, panti suhan, Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Shodaqoh (LAZISMU), Lembaga Penanggulangan Bencana Muhammadiyah atau  Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), dan Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM).

Sinergi antar lembaga dimaksudkan sebagai upaya untuk memberikan pelayanan secara terkoordinir, terencana dan dilakukan secara bersama-sama. Hal ini sangat dimungkinkan  -(atau sudah dilaksanakan) – mengingat Sumber Daya Manusia di Muhammadiyah tak terbatas dan sudah teruji

Dalam Konteks Way Kanan, bahwa Muhammadiyah  mempunyai kecenderungan yang sangat kuat pada kerja-kerja kemanusiaan, kedermawanan kepada sesama, mencintai kaum dhuafa dan membantu sesama. Sehingga seluruh kader persyarikatan akan gandrung mengikuti pekerjaan-pekerjaan amal jariyah atau filantropis.

Sebagai kader Persyarikatan Muhammadiyah sudah wajib memahami bahwa kerja-kerja amal jariyah mempunyai dimensi nilai ke-islaman juga. Bahkan Rasulullah SAW sudah menegaskan dalam sabdanya “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Jika gerakan filantropi dikalangan kawula muda bisa berkesinambungan, maka akan terwujud gerakan reflektif. Pada akhirnya gerakan filantropi akan menjadi bagian dari kehidupan kaum milenial Way Kanan. Ini tentu sangat menggembirakan. Dan ini merupakan bagian dari tugas PDPM dan –Muhammadiyah Way Kanan -, secara lebih luas dalam memasyarakatkan gerakan filantropi.

Namun, gerakan Filantropi ini harus berorentasi keikhlasan yang tinggi, tanpa pamrih dan mempunyai sifat pemberdayaan umat. Bukan pada tujuan pragmatis semata. Sehingga diharapkan sikap kedermawanan dapat terwujud di lingkungan masyarakat kabupaten Way Kanan.

Tentu, harapan akhir dari gerakan ini adalah terciptanya fungsi-fungsi sosial yang tidak hanya sebatas ritual mengatas namakan filantropi saja, melaikan mampu menjadi sebuah gerakan reflektif. Demikian juga, ketika filantropi berorientasi kepada keberfungsian sosial masyarakat yang berkeadaban, maka dapat dimaklumi jika gerakan filantropi akan mendapatkan tempat di masyarakat Kabupaten Way Kanan.

Fastabiqul Khairat.

Wallahu ‘alam bishowab.

banner 728x90

banner 728x90

  • Bagikan