IDEALITAS PENYULUH AGAMA ISLAM

  • Bagikan
Munawar S.Fil., MA

Oleh : Munawar, S.Fil.I, MA
(Penyuluh Agama Islam Fungsional Kemenag Way Kanan)

Redaktur : Anggi Subagio

Kabarsumatera.co.id / Way Kanan – Penyuluh agama Islam pada hakekatnya adalah pelaku dakwah yang menyampaikan pesan agama dan pembangunan melalui bahasa agama. Garda terdepan serta benteng dalam pertahanan NKRI, menjaga kerukunan umat beragama dan penangkal masuknya ajaran dan paham aliran bermasalah dan radikalisme berdasarkan urgensi dan peran strategis penyuluh agama di tengah masyarakat, maka dibutuhkan penyuluh agama yang memiliki komitmet kebangsaan dan berkualitas. ( Keputusan Dirjend Bimas Islam nomor 927 tahun 2019).

Penyuluh agama adalah pembimbing umat beragama dalam rangka pembinaan mental, moral dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sedangkan Penyuluh Agama Islam adalah pembimbing umat Islam dalam rangka pembinaan mental, moral dan ketaqwan kepada Allah SWT, serta menjabarkan segala aspek pembangunan melalui bahasa agama.
Penyuluh Agama Islam juga adalah juru penerang penyampai pesan bagi masyarakat mengenai prinsip-prinsip dan etika nilai keberagaman yang baik. Disamping itu Penyuluh Agama Islam merupakan ujung tombak dari Kementerian Agama dalam pelaksanaan tugas membimbing umat Islam dalam mencapai kebahagiaan dunia dan akherat.
Sebagai ujung tombak , Penyuluh Agama Islam mempunyai peran sebagai pembina umat, perekat umat, dan pembimbing umat. Penyuluh agama juga mempunyai peran sebagai agent of change yakni berperan mengadakan perubahan kearah yang lebih baik, di segala bidang kemajuan, dan perubahan lainya yang bersifat positif. Dengan bahasa lain, penyuluh juga mempunyai peran sebagai motivator utama pembangunan bidang rohani dan mental spiritual.

Secara kasat mata, peranan tersebut sering memposisikan penyuluh agama sebagai mahkluk yang dianggap ideal dan serba bisa. Oleh karenanya, penyuluh agama Islam perlu meningkatkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan, kompetnsi serta menguasai berbagai macam strategi, pendekatan, dan teknik penyuluhan, sehingga mampu dan siap melaksanakan tugasnya dengan penuh tanggung jawab secara profesional.
Memang, wilayah garapan penyuluh agama sangat kompleks dan menantang. Terlebih lagi tantangan yang dihadapi di era 4.0 sedemikian kompleks. Karenanya penyuluh agama dituntut untuk mampu bekerja profesional, agar mampu membaktikan dirinya secara optimal. Keprofesionalan yang dimaksud adalah, menyangkut pengtahuan, kemampuan dan keterampilan. Hal ini tentunya terkait dengan latarbelakang pendidikan, pengalaman, dan pengkajian yang terfokus pada bidang yang relevan. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi penyuluh agama.
Tantangan yang ada di era 4.0 ini tidak mungkin dihindari. Oleh karenanya penyuluh harus mampu menjawab tantangan yang ada. Untuk itulah penyuluh agama diharapkan bisa memahami secara tepat dan bijaksana dari dampak yang akan ditimbulkan oleh tantangan ini. Artinya, penyuluh agama harus mampu mengidentifikasi tantangan yang dihadapinya. Dengan demikian menjadi mutlak jika penyuluh agama dituntut untuk mengasah kemampuan intelektualnya sehingga tidak pasif dalam menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi ditengah-tengah masyarakat.

Pada posisi ini, sesungguhnya penyuluhan agama Islam mempunyai tiga fungsi utama, yakni fungsi informatif dan edukatif, fungsi konsultatif dan fungsi advokatif. Fungsi ini dimaksudkan agar keberadaan para penyuluh benar-benar perperan dalam kehidupan masyarakat.

Pertama, fungsi Informatif dan Edukatif. Fungsi ini memposisikan seorang penyuluh agama Islam sebagai da’i yang mempunyai berkewajiban untuk berdakwah, menyampaikan penerangan agama Islam dan mendidik masyarakat dengan sebaik-baiknya. Kedua, Fungsi konsultatif. Fungsi ini mengandung makna kesediaan seorang penyuluh agama Islam untuk memikirkan dan memberikan solusi terhadap beragam persoalan yang dihadapi masyarakat. Dan fungsi yang ketiga adalah fungsi Advokatif. Fungsi ini dimaksudkan agar penyuluh agama Islam memiliki tanggung jawab moral dan sosial untuk melakukan kegiatan pembelaan terhadap masyarakat dari berbagai gangguan dalam melaksanakan ibadah, memberikan pemahaman yang benar dari paham-paham yang menyesatkan dan hambatan lainya yang mengganggu kerukunan umat beragama.
Ketiga fungsi diatas benar-benar harus optimal dalam penerapanya, sehinga para penyuluh agama menjadi profesional. Optimalisasi fungsi ini menjadi penting untuk ditingkatkan di tengah problem keumatan dan kemasyarakatan yang kian kompleks. Idealnya penyuluh agama juga menguasai materi dakwah, peta dakwah di daerah, mampu menganalisis data potensi wilayah binaan, dan menjadi agen perubahan melalui pemberdayaan masyarakat. Selain itu, kemampuan membuat materi bimbingan dan pnyuluhan yang berbasis media, juga tidak kalah pentingnya.

Disamping mempunyai tiga fungsi, penyuluh agama juga memiliki tugas profetik. Tugas ini menjadikan posisi penyuluh agama sangat penting mengingat banyaknya tantangan yang dihadapi. Terlebih lagi di zaman ilmu dan tekhnologi yang berkembang sangat pesat. Maka tantangan tersebut merupakan tantangan yang menyangkut semua aspek kehidupan manusia secara langsung.
Diantara tugas profetik penyuluh agama adalah; Pertama, mengajarkan ilmu khususnya berkaitan dengan kebijaksanaan. Tugas ini dilakukan dalam bentuk bimbingan dan penyuluhan kepada masyarakat binaannya agar memiliki wawasan keagamaan dan kebangsaan yang memadahi. Kedua, memberikan bimbingan yang rasional. Kemampuan ini sangat diperlukan agar masyarakat mampu menemukan kualitas hidup yang bertumpu pada pilar-pilar ilmu pengetahuan. Penyuluh harus mampu mentransfer ilmu pengetahuan kepada masyarakat agar tidak mudah menerima aliran atau ajaran sesat dan paham radikalisme.Ketiga, menegakkan keadilan secara lebih luas. Tugas ini mungkin telah melekat pada profesi lain, seperti kepolisian, hakim, atau pejabat publik lainnya. Namun, penyuluh agama juga setidaknya harus bisa menunjukkan perilaku adil sehingga menjadi teladan bagi umatnya. Keempat, menyelamatkan manusia dari “jahiliyah” dan mengajak pada kehidupan yang lebih baik. Tugas ini ditekankan pada aspek pengembangan moral agar umat memedomani nilai-nilai universal agama Islam. Kelima, mengingatkan umat akan syukur yang telah diberikan Allah SWT. Konteks ini bisa dimaknai bahwa bangsa Indonsia adalah bangsa yang kaya raya. Selain itu bangsa Indonesia tercipta sebagai bangsa yang mencintai kedamaian, ketentraman dan kenyamanan dalam bingkai Bhineka Tunggal Eka. Keenam, membebaskan manusia dari sikap dan perilaku merusak. Dimana akhir-akhir ini terdapat kecenderungan tindakan sebagian masyarakat yang mengarah pada sikap dan perilaku yang merusak sendi-sendi kehidupan, seperti pergaulan bebas, penyalahgunaan narkoba, perilaku seksual menyimpang, aliran-aliran sesat, disintgrasi bangsa dan lainnya.
Dari tugas profetik ini, penyuluh agama diharapkan dapat menjadi penengah dan, mendamaikan manakala konflik terjadi. Penyuluh agama harus bersedia membuka diri terhadap permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat. Sehingga penyuluh agama dapat menjadi tempat berkonsultasi dan tempat mengadu bagi masyarakat untuk mencari solusi dengan nasehat yang diberikan oleh penyuluh agama.
Pada diri seorang penyuluh agama Islam, dituntut mempunyai kompetensi dalam melaksanakan tugasnya. Dalam Keputusan Dirjend Bimas Islam nomor 927 tahun 2019 disebutkan bahwa penyuluh agama wajib memiliki komptensi. Kompetensi pertama adalah komptensi ilmu keagamaan. Kompetnsi ini meliputi: mampu membaca dan memahami Al-Qur’an, memahami ilmu fiqh, memahami hadits, memahami sejarah nabi Muhammad SAW. Kompetensi kedua adalah kompetensi komunikasi yang meliputi: mampu menyampaikan ceramah agama dan khutbah, mampu memberikan konsultasi agama. Kompetensi ketiga adalah kompetensi sosial yang meliputi: memiliki kecakapan dalam bermayarakat, aktif dalam organisasi keagamaan atau kemasyarakatan, berkahlaq mulia, memiliki komitmet dan wawasan kebangsaan.
Pada hakekatnya tujuan yang ingin raih dari bimbingan dan penyuluhan agama adalah terwujudnya kehidupan masyarakat Indonesia yang memiliki pemahaman agamanya secara memadai. Indikator tersebut dapat ditunjukkan melalui praktek keagamaan yang istiqomah, dan disertai wawasan kebangsaan luas. Sehingga masyarakat Indonesia mampu hidup dalam kedamaian, kerukunan , saling menghormati dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Fastabiqul Khairat.
Wallahu ‘alam bishowab.

 

banner 728x90

banner 728x90

  • Bagikan