MENDORONG KESADARAN PEMILIH PEMULA MELALUI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN (PKn)

  • Bagikan

Oleh
Yogi Erlangga S.Pd

– Guru Mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan SMK YP 17 Baradatu, Way kanan

– Tutor Mata Kuliah  Pendidikan Kewarganegaraan Universitas Terbuka UPBJJ Bandar Lampung

Redaktur : Anggi Subagio

KABARSUMATERA.CO.ID/ TAJUK -Pemilihan Umum merupakan wujud Demokrasi, kegiatan ini melibatkan seluruh elemen bangsa tanpa terkecuali, dan salah satu instrument keberhasilan penyelengaraan Pemilu sangat tergantung pada kualitas dan kuantitas Partisipasi pemilih. Sosialiasi politik yang juga merupakan bagian dari upaya menyampaikan pesan dan pemahaman tentang kegiatan politik kepada pemilih sehingga pemilih bisa berpartisipasi secara benar dan memiliki wawasan yang cukup tentang prosedur teknis pemilihan, untuk itu pemahaman yang cukup tentang teknis pemilihan diharapkan mampu untuk mendorong kesadaran pemilih.

Berbicara tentang pemilih, berdasarkan Undang-undang No 7 Tahun 2017  ada tiga syarat yang wajib bagi warga negara untuk tercatat sebagai pemilih, yaitu merupakan Warga Negara Indonesia (WNI), berusia 17 tahun atau lebih saat memilih, pernah atau pun sudah menikah. Pemilih berusia 17 Tahun atau yang umum disebut Pemilih Pemula merupakan pemilih yang memiliki basis cukup besar di Negara kita, sebagian besar mereka adalah berstatus pelajar Tingkat Menengah Atas (SMA/SMK) dan Mahasiswa.

Pendidikan politik penting bagi mereka mengingat Pemilu merupakan bagian pintu gerbang untuk berpartisipasi langsung dalam kegiatan politik dan menyalurkan Hak dan Kewajiban mereka sebagai warga Negara sesuai dengan amanat Undang – undang dasar 1945. Maka untuk itu Pemilih pemula harus diberikan tempat yang sesuai agar mereka bisa menyalurkan aspirasi dan keinginan dalam hak politiknya, yang menjadi persoalnnya adalah Kelompok Pemilih Pemula ini masih memiliki bekal pengetahuan politik atau Budaya politik yang masih rendah, mereka cenderung memiliki sikap Kaula yang mengetahui tentang kegiatan politik namun enggan untuk ikut secara langsung dan berpartisipasi dalam hal kegiatan politik, terkadang hanya ikut kegiatan politik bukan karena kesadaran mereka sendiri namun karena hanya ikut-ikutan saja dengan kelompok lain.

Untuk menumbuhkan pengetahuan dan kesadaran berpolitik kaum pemilih pemula ini diperlukan Agen-agen dan sarana yang dapat memberikan pemahaman dan sosialiasi politik khususnya kegiatan Pemilihan yang melibatkan mereka sebagai warga Negara.  Ada beberapa sarana yang bisa digunakan selain sosialiasi dimasyarakat yang dilakukan oleh Penyelenggara dan peserta pemilu serta media masa, yaitu lembaga pendidikan Formal maupun Non Formal. Pendidikan Formal yang mencakup Lembaga Pendidikan setingkat Sekolah Menengah atas dan Perguruan Tinggi yang merupakan sebagian besar Pemilih Pemula berada disana, sekolah dan kampus bisa saja menjadi agen sosialiasi kegiatan politik pemilihan karena akan menambah wawasan dan pengetahuan mereka tentang politik dan peran serta mereka didalamnya.

Sekolah dan perguruan tinggi melalui Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) yang merupakan mata pelajaran wajib dan umum dan termuat dalam kerangka kurikulum pendidikan dasar, menengah dan perguruan tinggi  sesuai dengan Undang-Undang (UU) Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang dimaksud Pendidikan Kewarganegaraan adalah suatu pendidikan yang bertujuan untuk mendidikan para generasi muda dan mahasiswa agar mampu menjadi warga negara yang demokratis dan partisipatif dalam pembelaan negara. Dalam hal ini pendidikan kewarganegaraan merupakan suatu alat untuk membangun dan memajukan sistem demokrasi suatu bangsa. memeberikan pemahaman materi tentang Budaya Politik, Lembaga-lembaga Politik, dan hubungan- hubungan politik Hukum, Demokrasi serta Wujud Demokrasi.

Dalam pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn)  juga diajarkan bagaimana kita sebagai warga Negara yang baik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, dalam praktek pembelajaran ini menumbuhkan kesadaran dan keingintahuan pada diri setiap siswa dan mahasiswa untuk terlibat langsung dalam kegiatan politik khususnya Pemilu baik pemilu secara langsung maupun pemilihan yang di gelar di sekolah maupun di kampus masing-masing dalam rangka pemilihan OSIS maupun Badan Ekskutif Mahsiswa.

Pola pendidikan kewarganegaraan yang diajarkan di seluruh sekolah dan di kampus universitas diharapkan mampu memberikan dorongan kepada Pemilih Pemula untuk meningkatkan kesadaran berpolitik dan kepemiluan khususnya pada even penyelenggaraan Pemilu serentak Tahun 2019 dan Pemilu selanjutnya yang akan digelar,dalam hal Pemilu Tahun 2019 pemilih pemula memiliki peranan penting dalam masa depan dan kehidupan bangsa kedepan oleh karena itu pemahaman dan pengalaman pemula dalam hal kegiatan politik harus diperkaya, khususnya melalui peran Pendidikan Kewarganegaraan yang ada di sekolah maupun di Kampus.

Pada pemilu tahun 2019 persentase partisipasi pemilih berdasrkan informasi dari berbagai macam sumber seperti tribun news dan detik news per 18 April 2019 lalu telah melampaui target KPU yaitu 80,90 % seluruh pengguna Hak pilih dengan target KPU sebesar 77,5%, secara Nasional, tentu harapannya partisipasi pemilih akan terus meningkat khususnya suara para kaum Pemilih Pemula, dan kesadaran berkegiatan politik partisipan tertanam sejak mereka berada dibangku sekolah dan diperkuliahan melalu sarana pembelajaran Penddidikan Kewarganegaraan (PKn).

Harapannya juga sekolah dan kampus menjadi sasaran sosialiasi politik dan kepemiluan agar mempertajam pengetahuan para pemilih pemula, seperti yang sudah dilakukan oleh penyelenggara Pemilu baik KPU dan jajaran serta Bawaslu Beserta jajaran dan pemerintah daerah setempat pada even Pemilu Legsilatif dan Pemilihan Presiden dan wakil presiden Tahun 2019, yang dikemas dengan berbagai tema seperti KPU Goes To Campus, Sosialiasi Basis pemula dan pelajar mengingat Tanggung jawab terhadap partisipasi pemilih dalam pemilu merupakan tanggung jawab bersama.

banner 728x90

banner 728x90

  • Bagikan