Munawar S.Fil. MA : Ibu di Era Digital

  • Bagikan

Oleh : Munawar, S. Fil., MA (Penyuluh Agama Islam Fungsional Kemenag  Way Kanan)

Redaktur : Anggi Subagio

Kabarsumatera.co.id / Way Kanan – Peringatan hari ibu setiap tanggal 22 Desember, patut diberikan apresiasi tersendiri. Hal ini memberikan gambaran bahwa, peran ibu tidak bisa digantikan oleh siapapun. Secanggih apapun tekhnologi, ia tidak bisa menggantikan sosok ibu. Ibu tetaplah sosok yang multifungsi dan mempunyai jiwa yang mengagumkan. Karena perjuangan ibu jua-lah, kepribadian anak-anak terbentuk.
Kepribadian seorang anak sangat ditentukan oleh bagaimana proses dan pola dalam mendidik anak. Karena ibu merupakan “madrasah”  pertama dalam kehidupan anak di fase awal. Proses dan pola mendidik ini juga akan mempengaruhi watak serta karakter dari sebuah peradaban dimasa yang akan datang. Dengan demikian, peran ibu tidak bisa dianggap hanya sebagai lingkup domestic space saja, tetapi ibu-pun bisa berperan sebagai public space dalam kehidupan abad millenium.
Peran domestic space (ibu rumah tangga) saja, yang dalam istilah kuno, – tugas perempuan hanya di dapur, disumur dan dikasur -, dapat diabaikan. Peran tersebut harus dimaknai sebagai penyemangat para ibu untuk memberikan yang terbaik bagi generasi yang akan datang. Karena perjuangan seorang ibu, tidak berhenti saat melahirkan saja. Akan tetapi ibu juga bertugas mendidik anak seumur hidup agar menjadi manusia yang beretika, bermartabat dan ber-akhlaqul karimah.
Kemudian, peran public space dimaksudkan untuk pelibatan peran ibu dalam area publik. Peran ini menuntut kesadaran para ibu untuk berkiprah menempati ruang-ruang yang selama ini menjadi dominan kaum laki-laki.  Ibu –pun dituntut untuk memiliki pengetahuan yang cukup, sebagai bekal dalam mendidik anak.
Disinilah terlihat bahwa ibu pun mampu untuk berperan dan bersikap proporsional (double burden). Peran ini dimaknai sebagai peran ganda dari seorang ibu. Peran ganda ini akan menjadi ideal, jika ibu mempunyai bekal pengetahuan yang cukup. Dengan pengetahuan yang cukup, maka peran ganda ini dapat tetap berjalan secara beriringan dalam mendidik dan mengasuh anak.
Ibu, dengan bekal pengetahuan yang cukup, akan memberikan pendidikan yang baik bagi anak-anaknya. Karena, dalam proses tersebut terdapat nilai-nilai yang tidak akan didapatkan dari lingkungan lain. Proses ini yang kemudian akan mempengaruhi karakter anak di fase awal pertumbuhanya. Pada posisi ini ibu harus menyadari bahwa pembentukan karakter anak dimulai dari pendidikan yang diberikan oleh ibu.
Kesadaran ini dimaksudkan juga dalam menempuh pendidikan. Ketika kaum perempuan menempuh pendidikan yang tinggi, maka dalam proses itu akan didapati pengetahuan yang cukup. Dengan bekal yang cukup, maka akan memudahkan dalam mendidik anak.
Secara fakta empiris saat ini, kaum ibu ( perempuan ) sudah mampu mengenyam pendidikan yang setara dengan laki-laki. Kaum perempuan sudah dapat menjadi partner laki-laki dalam setiap bidang. Pekerjaan yang dahulu tidak mungkin dilakukan oleh perempuan, saat ini dapat dilakukan. Hal ini terjadi karena adanya kesadaran untuk berjuang agar setara dengan laki-laki. Jika saja tidak ada orang-orang yang ingin sadar dan bersuara tentang hak-hak perempuan, maka tidak akan ada kesetaraan antara laki-laki dan perempuan yang kita rasakan seperti hari ini.
Sadar atau tidak, kemajuan ilmu dan teknologi ternyata memberikan tekanan yang dapat dirasakan secara langsung oleh para ibu. Pada zaman yang serba tekhnologi ini, ibu pada generasi milinium dituntut untuk menjadi ibu yang “sempurna”. Dimana ibu pun seyogyanya mampu menguasai tekhnologi masa kini.
Di era ilmu pengetahuan dan gempuran teknologi yang kian masif, ibu dituntut untuk mampu berbagi peran. Satu sisi, ibu harus menghadapi anak-anak yang besar dan tumbuh dalam era milenial, sementara disisi lain, ibu  juga berperan sebagai seorang istri. Peran ini juga menuntut ibu  untuk mengetahui bagaimana cara membahagiakan suami di tengah tugas-tugasnya yang banyak.
Ibu memanglah istimewa. Ibu memiliki kemampuan yang tidak dimiliki oleh kaum laki-laki. Dalam diri ibu terdapat banyak keistimewaan. Bahkan Allah SWT memberikan keistimewaan yang luar biasa. Dalam surat Lukman ayat 14 misalnya, Allah SWT menguraikan tiga fase kesusahan yang dialami oleh seorang ibu. Fase yang dimaksud adalah fase kehamilan, fase melahirkan dan fase menyusui.
Rasulullah SAW –pun memberikan sebuah jawaban yang menakjubkan ketika ditanya siapa yang berhak mendapatkan kebaikan pertamakalinya. Rasulullah SAW memberikan jawaban saat seorang sahabat bertanya kepadanya, “Wahai Rasulullah, kepada siapakah seharusnya aku harus berbakti pertama kali?”. Nabi memberikan jawaban dengan ucapan “Ibumu” sampai diulangi tiga kali, baru kemudian yang keempat Nabi mengatakan “Ayahmu” (HR. Bukhari dan Muslim).
Firman Allah SWT dan Hadits Rasulullah SAW diatas menggambarkan bahwa kecintaan dan kasih sayang terhadap seorang ibu, harus tiga kali lipat besarnya dibandingkan terhadap seorang ayah. Penghargaan ini memberikan kesadaran kepada kita bahwa ibu memang pantas untuk diberikan penghormatan yang mulia. Karena kesulitan pada fase hamil, kesulitan ketika melahirkan, dan kesulitan pada saat menyusui dan merawat anak, hanya dialami oleh seorang ibu.
Ibu merupakan sosok wanita yang istimewa. Ibu mempunyai kedudukan yang istimewa dalam kehidupan rumah tangga antara suami istri. Demikian juga, kedudukan ibu sangat penting bagi anak-anaknya. Dengan kata lain, ibu menjadi cermin baik dan tidaknya sebuah keluarga. Seorang ibu yang baik dan salehah tentu akan mengajarkan hal-hal kebajikan dalam mendidik anak-anaknya
Dalam konteks inilah ibu mempunyai pengaruh yang besar untuk membentuk kepribadian, karakter, dan akhlak seorang-anak. Bahkan begitu besar pengaruhnya,  ibu dapat dijadikan sebagai patron penentu nasib generasi berikutnya. Karena, dengan pola asuh dan penanaman nilai-nilai kebaikan tersebut akan berdampak besar bagi kualitas generasai yang akan datang.
Namun, jika ibu tidak memberikan pendidikan yang benar dan baik, maka generasi yang akan datang akan menjadi generasi yang tidak mampu bersaing. Dalam Posisi ini,  ibu hanya akan melahirkan generasi-generasi yang lemah dan generasi yang tidak siap bersaing.
Maka, peran ibu di era digital sangat penting. Menyiapkan generasi yang shaleh, berakhlaqul karimah dan sekaligus menyiapkan gnrasi yang siap bersaing. Tugas mulia ini tentulah tidak mudah. Namun, dengan anugrah yang telah Allah berikan kepada ibu, maka ibu yang sholehah akan mampu mengemban amanat dari Allah SWT.
Akhirnya, esensi yang paling utama dalam memperingati hari ibu ada¬lah mengenang perjuangan para pahlawan-pah¬lawan perempuan Indonesia. Karena pada hakekatnya nilai-nilai perjuangan mereka dapat dijadikan sebagai refleksi atas nilai perjuangan terhadap peradaban manusia. Sebuah nilai yang bisa ditransformasikan kepada generasi saat ini. Selamat hari ibu.
Fastabiqul Khairat.
Wallahu ‘alam bishowab.

banner 728x90
  • Bagikan